Ehm…pagi2 nyampe ke kampus langsung ke lab, biasa “ngemail” ma “nyecele”. Saat liat2 folder email tiba2 mucul keinginan tuk liat inbox dari milis dunia “bawah tanah” :twisted: Gwa langsung liat isi folder phreaking dah lama juga gwa ga ngeliat isinya…oups…udah ribuan isinya… Wah tampaknya ada salah satu isi yang menarik untung saja dulu ga kehapus kekekek….Apa sich untungnya…eng..ing..ong..ternyata ada kabar sms gratis…lumayan khan sapa coba yang ga mau gratisan he..he…
Ah..langsung aja dech kelamaan…intinya gwa dapat link yang mengarahkan ke page yang menyediakan sms gratsian…disini nich salah satu linknya http://www.ayambakarabg.com/sms/wizard.php awalnya gwa dapat dari salah satu komunitas phreaking..terus klak-klik hingga dapat page aslinya yah di situ tadi. SMS nya menggunakan layanan gratis dari klub mentari. Gwa udah nyobain sms ke hp gwa dan alhasil nyampe juga. Jadi ga ngebulsit kok situs itu halah..promosi..Met Mencoba! Sekarang jempolnya ga jadi gede khan gara2 keypad hp yang kecil, pulsa utuh pula… :cool:
Banyak orang bilang IT adalah lahan potensial sekarang ini, dan fakta pun menunjukkan demikian. Hampir semua aktvitas manusia seperti bisnis, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan masih banyak bidang lainnya yang sekarang ini sangat membutuhkan dukungan IT. Jadi cukup tepatlah kalau bisa dibilang IT lagi booming saat ini, terus apa dampaknya? Banyak perguruan tinggi yang berlomba-lomba membuka jurusan bidang IT entah itu Teknik Informatika, Ilmu komputer, Sistem Informasi, Teknik Komputer, ataupun istilah lainnya yang berbau komputer dan teknologi informasi. Mereka juga berupaya untuk menarik sebanyak-banyaknya peserta didik. yah…mumpung lagi booming kapan lagi…
Sebenarnya kenapa sih IT jadi banyak incaran, sampai-sampai orang dari background non IT pun ikut-ikutan “nga-IT”. duit pasti jadi salah satu alasan. Memang projek IT cukup menjanjikan dalam hal profit, lagi pula modalnya juga tidak terlalu gede, modal otak saja pun jalan. Karena saking banyaknya orang yang kecemplung di dunia IT persaingan harga pun tidak lagi fair. Ada satu kelompok tertentu yang menawar suatu projek tertentu dengan harga ratusan juta bahkan nyampe milyaran tetapi disisi lain ada kelompok tertentu yang berani dan mampu ngerjain dengan harga cuman ratusan ribu rupiah apalagi kalau ada mahasiswa yang ikut-ikutan pasti akan lebih merusak tatanan harga lagi he..he… :razz:. Terus apa sebenranya sih yang menjadi tolok ukur dalam pengambilan value suatu projek? Apakah dari tingkat kesulitannya. kualitas hasilnya, atau brand orang yang mengerjakan? Saya sendiri juga masih bingung, kalau dari sisi kesulitan itu pasti relatif kemampuan orang beda-beda, atau dari segi kualitas outputnya? Dengan requirement yang sama kualitas outputnya pun pasti kurang lebih sama antara sebuah perusahaan yang bonafit dengan seorang mahasiswa, ataupun bahkan dibandingkan seorang lulusan SMP yang hobi komputer. Bahkan mungkin kualitas buatan anak lulusan SMP jauh lebih bagus daripada buatan perusahaan bonafit. Tetapi kenapa yang diambil justru harga yang tinggi yang ditawarkan oleh perusahaan bonafit dengan kualitas yang mungkin sama atau dibawah kualitas bikinan anak lulusan SMP?
Saya pernah denger cerita dari seorang kawan, saat itu ada sebuah thender pembuatan sebuah homepage perusahaan. Kebetulan perusahaan temen kawan saya itu ikutan thender tersebut, dia berani buka harga 14 juta, sementara perusahaan kompetitor menawarkan harga 60 juta (waduh…jauh bener bedanya banting harga ya om… :roll: ) Akan tetapi seperti apa hasilnya ternyata yang punya “hajat” cenderung memilih yang 60 juta…waduh dah nawarin murah kok gagal yah…Nh..akhirnya perusaahan temen kawan saya menaiikan harga nyampai 40 juta…jreng…jreng….alhasil dia jadi pemenag thender tersebut.
Ehm…dari kasus tersebut…kita bisa belajar banyak…ternyata harga murah bahkan sampai2 banting harga di bawah standard bukanlah solusi ketika kita hendak memenangkan thender. Dengan penawaran harga murah mungkin saja orang berpikir jangan2 valuenya emang sesuai dengan harga yang ditawarkan yakni kecil….Jadinya lebih memilih penawaran harga tinggi dari perusaan yang keliatannya bonafit. Sebaiknya ketika hendak menawarkan harg kita harus tahu dulu kondisi client yang hendak kita hadapi seperti apakah dia dan kemauan dia, ketika memberikan penwaran akan lebih baik kita sesuakan dengan value yang bisa kita berikan jangan terlalu bernafsu dengan nominal ataupun hasrat untuk memenangkan thender sehingga banting harga yang sering kali merusak tatanan pasaran. Di sisi lain client ketika akan memberikan keputusan siapa yang akan mengerjakan projek, jagangan hanya terpaku pada sebuah nama dan “menara gading” kualitas juga perlu diperhatikan. Belum tentu perusahaan IT ketika mengerjakan projeknya bener2 diserahkan kepada yang berkompeten…mungkin saja hanya gelarnya saja yang IT tapi di lapangan kalah sama praktisi yang mungkin ijasah SMA tidak punya. Jadinya kerjaan pun asal jadi.